Senin, 11 Februari 2013

huuu 2



Seleksi Tim Voli 2

Daniel jongkok di belakang Indra. Membuka buah pantat Indra dengan santai. Indra menunggu apa yang dilakukan Daniel. Ia jadi inget ketika ikutan tes masuk SMU Taruna Nusantara.
Dulu diapun diginiin untuk tes pemeriksaan ambeyen. Jemari Daniel tiba-tiba menyusup ke celah pantatnya. Indra memejamkan matanya. Rasanya perih. “Seret Ndri, tolong ambilin baby oil itu deh,” kata Daniel. Akhirnya Indra tahu apa guna baby oil yang sejak tadi diletakkan dekat tempat duduk Adriansyah dan Daniel. 
Adriansyah segera melemparkan botol baby oil itu pada Daniel. Cowok Ambon itu segera melumuri jari tengahnya dengan cairan baby oil itu. Kemudian jari itu dimasukkannya lagi ke celah lobang pantat Indra. Jari itu menusuk ke dalam. Indra membiarkan saja. Namun apa yang dilakukan Daniel kemudian membuat Indra terhenyak. Jari tengah Daniel bergerak-gerak, mengaduk-aduk lobang pantatnya. Indra merinding. Rasanya geli-geli enak. Jari tengah Daniel bergerak maju mundur di celah lobang pantat Indra. Menimbulkan gesekan yang membuat Indra keenakan. Ia memejamkan matanya. Bibir bawahnya digigitnya. 
“Kenapa Ndra? Enak ya?” tiba-tiba Adriansyah sudah berbisik di telinganya. Bibir cowok ganteng itu dirasakannya menyentuh daun telinganya. “He eh,” Indra menyahut lirih. Wajahnya merah. Ia ketangkap basah menikmati sodokan jari Daniel itu. “Pemeriksaannya udah selesai, kamu bebas ambeyen Ndra. Jarinya mau dikeluarin atau tetap didalam aja?” tanya Daniel dari belakang. “Biarin didalem aja a’,” kata Indra pelan. “Ya udah kalo gitu,” Daniel melanjutkan sodokan jarinya. Keluar masuk lobang pantat Indra. Sensasi yang ditimbulkan membuat Indra terangsang. Tanpa disadarinya kontolnya membesar. “Kontol kamu kok ngaceng sih Ndra?” tanya Adriansyah. 
Tiba-tiba tangannya sudah menggenggam kontol Indra yang gemuk dan panjang. Tangan itu licin. Rupanya Adriansyah melumuri tangannya dengan baby oil. Perlahan tangan Adriansyah meremas-remas lembut batang kontol Indra. “Ahhhhh…,” tanpa sadar Indra mengerang. Tangan Adriansyah semakin nakal. Kini mulai bergerak seperti mengocok dengan lembut. “Enak Ndra?” tanya Adriansyah lagi. “He eh,” “Mau yang lebih enak Ndra?” tanya Daniel. “Mau a’. Mau,” seminggu tak ngentot dengan Dini membuat Indra tak bisa menguasai nafsunya. Ia membiarkan saja dua laki-laki tampan dan jantan itu mengerjai daerah sekitar selangkangannya. Mulut Daniel dirasakan Indra menyentuh kulit buah pantatnya. Sesaat kemudian dari mulut itu keluar lidah Daniel. Lidah itu mulai melakukan jilatan-jilatan di sekitar pantat Indra. 
“Ahhhhh…,” Indra kembali mengerang. Matanya dipejamkannnya kuat-kuat. Tanpa disadarinya Adriansyah rupanya sudah jongkok dihadapannya. Tiba-tiba Indra merasakan kepala kontolnya dikulum. Seperti kuluman Reny atau Dini. Indra menggeliat. Rasanya kepalanya ringan. Tubuhnya seperti melayang. Ia sangat keenakan merasakan kuluman dan jilatan di daerah vitalnya. Lidah Daniel menyapu celah pantat, hingga buah pelernya yang menggantung. Sementara mulut Adriansyah mengulum kepala kontolnya sambil menyapukan lidahnya di dalam mulut. Indra mengerang. Sekian lama Indra terbius oleh permainan mulut kedua laki-laki gagah itu. Ia terhanyut. Ia lupa bahwa yang melakukan itu adalah laki-laki sama sepertinya. Namun pada satu waktu tertentu ia tersadar. Akal sehat menguasainya kembali. 
“Astaga! Ini gila!” seru Indra tiba-tiba. Ia melepaskan dirinya dari kedua laki-laki itu. Ia menjauh dari keduanya. “Kalian….. mengapa kalian melakukannya padaku… Tak kusangka kalian gay,” katanya dengan ekspresi yang campur baur. Penuh birahi dan bingung dengan apa yang terjadi. Adriansyah dan Daniel berdiri tegak menatap Indra. “Apa maksud kamu Ndra?” tanya Adriansyah. “Kalian homo. Kalian dua laki-laki homo. Aku tak mau diperlakukan seperti itu,” “Kamu ada-ada saja. Bukankah tadi kami melakukannya atas permintaanmu,” “Aku tadi khilaf. Tak sadar,” “Jangan berdalih. Kamu tidak dalam keadaan mabuk Ndra.

Kamu menikmatinya, akui sajalah,” kata Daniel tegas. “Aku… aku.. tak mengertii.. aku tidak mau jadi homo seperti kalian,” Indra bingung.
Adriansyah dan Daniel mendekat. Memegang tubuh Indra erat. “Tak usah bingung Ndra. Mari kami jelaskan. Duduklah dulu,” ajak Adriansyah. Indra mengikuti meskipun bingung. “Kamu salah persepsi tentang kami berdua,” kata Daniel. “Salah persepsi bagaimana? Kalian jelas-jelas gay. masak kalian mau ngemut kontol dan jilat pantatku?” “Kamu kurang memahami sex Ndra. 
Makanya banyak-banyak baca buku tentang sex. Bukan berarti karena kami ngemut kontol kamu terus kami jadi homo,” kata Adriansyah. “Jadi apa namanya?” “Entahlah. Yang pasti kami hanya bermaksud mengajarkan kamu melakukan sex dan dapat berejakulasi di dalam tanpa perlu takut hamil” “Maksud kalian anal sex?” “Begitulah kira-kira,” “Dengan sejenis?” “Ya,” “Itu gay sex namanya,” “Terserah kamu menyebutnya apa. Yang pasti meskipun kita melakukannya namun tidak mengurangi rasa suka kita pada cewek Ndra,” kata Daniel. “Maksud kalian?” “Kami sudah sering melakukannya berdua. 
Tak ada komitmen. Tak ada cinta. Hanya memuaskan birahi saja. Dan yang terpenting tidak mengganggu hubungan cinta dengan cewek kami masing-masing,” “Kalian… sering melakukannya?” “Ya… Mengapa? Ada yang aneh?” “Kalian gila,” “Terserah apa katamu,” Adriansyah tak berkata-kata lagi. Ia memandang ke arah Indra dengan tatapan tajam. Indra grogi akan pandangan itu. Ia membuang muka. Perlahan-lahan Adriansyah melepaskan pakaiannya diikuti oleh Daniel. Kedua cowok itu kini telanjang bulat dihadapan Indra, hanya sepatu dan kaos kaki saja yang tidak mereka lepas. Keduanya kemudian merapat. Lalu berpelukan erat dilanjutkan dengan saling melumat bibir. Penuh nafsu dan buas. 
Jemari mereka saling meraba ke semua lekuk-lekuk tubuh mereka yang berotot kencang. Indra merinding melihatnya. Kembali ia membuang muka. “Gila. Aku mau keluar dari sini,” kata Indra. Ia melangkah ke arah pintu. Diputarnya gerendel pintu namun terkunci. Ia teringat bahwa kunci itu disimpan di kantong celana Daniel. Indra mengarahkan pandangannya ke arah Adriansyah dan Daniel kembali. Mencari-cari celana Daniel yang tadi terserak setelah dilepaskan oleh cowok Ambon itu. Mau tak mau ia kembali menatap Adriansyah dan Daniel yang masih terus beraksi. Malah semakin vulgar. 
Mulut Adriansyah sibuk melumat puting susu Daniel yang kecoklatan, membuat cowok Ambon itu menggelinjang-gelinjang. Adriansyah semakin liar, ia melanjutkan lumatan bibirnya ke ketiak Daniel yang penuh bulu. Tanpa risih dan jijik mulut Adriansyah menyelomoti ketiak teman satu clubnya itu. Indra terhenyak. Tak pernah dibayangkannya hal seperti ini. Menonton pergumulan cabul dua laki-laki jantan. Melihat pemandangan baru ini membuatnya lupa mencari kunci pintu. Pandangannya tak lepas melihat apa yang dikerjakan oleh dua mahasiswa teknik seniornya itu. Adriansyah kemudian menungging seperti anjing, tangan dan kakinya digunakan sebagai tumpuan. Daniel berjalan ke belakang Adriansyah. Juga menungging, wajahnya tepat di buah pantat Adriansyah yang putih dan montok. Lidah Daniel kemudian sibuk menjilat-jilat pantat dan kontol Adriansyah. 
Kontol Adriansyah yang gemuk dan panjang ditarik Daniel ke belakang untuk memudahkannya mengulum dengan penuh kenikmatan. Seperti anak kecil mengulum permen. Keduanya benar-benar penuh gairah birahi. Mereka tak memperdulikan lagi keberadaan Indra. Warna kulit mereka yang hitam dan putih terlihat sangat kontras. Puas dengan kulum mengulum kontol dalam posisi nungging keduanya melanjutkan ke posisi selanjutnya. Adriansyah dan Daniel berbaring di lantai. Kontol Adriansyah masih di mulut Daniel. Adriansyah kemudian memutar tubuhnya. Mulutnya mencari-cari kontol Daniel. Setelah ketemu kontol yang gemuk dan panjang berwarna gelap itu langsung dikulumnya. Indra bingung. Melihat percumbuan cabul dua mahasiswa itu membuatnya terangsang.

Kontolnya mengeras. Akal sehatnya hilang sudah. Tangannya mengambil botol baby oil, lalu melumuri isinya ke telapak tangannya. Duduk mengangkang di lantai dikocoknya kontolnya sendiri sambil mempelototi percumbuan Adriansyah dan Daniel.
Adriansyah mendekati Indra. Ia tersenyum mesum melihat Indra yang terangsang dengan percumbuan mereka. Mulutnya langsung mencaplok kontol Indra. Daniel mengikuti. 
Dua laki-laki itu lalu asik mengulum kontol Indra dengan buas. Mereka saling berebutan seperti anjing berebut tulang. Sesekali celah pantat Indra yang ditumbuhi bulu halus pun mereka jilat. Indra seperti kerasukan setan. Ia mengerang-erang. Pahanya dikangkangkannya semakin lebar. Memberi kesempatan seluas-luasnya bagi Adriansyah dan Daniel mengerjai perkakas cintanya. Tangannya mencari-cari kontol dua seniornya itu. Setelah dapat tangannya langsung menggenggam kontol Adriansyah dan Daniel. 
Kemudian mengocoknya dengan penuh semangat birahi yang liar. Capek berebut kontol Indra dengan rekannya, Daniel bangkit. Tinggallah Adriansyah sendiri mengulumi kontol Indra. Daniel mendekatkan selangkangannya ke wajah Indra. Cowok ini langsung paham keinginan Daniel. Tanpa fikir dua kali kontol Daniel yang hitam, gemuk dan panjang itu langsung ditelannya. Mulutnya menyelomot dengan buas. Sambil menyelomot tangannya terus mengocok-ngocok kontol cowok Ambon itu dan kontol Adriansyah. Pantat Daniel bergerak maju mundur. Kepalanya menengadah. Mulutnya mengeluarkan erangan-erangan. 
Ia begitu keenakan. Sedotan mulut Indra di kontolnya dirasakannya seperti remasan memek. Layaknya seperti ngentot saja dirasakannya saat itu. Meski belum pernah melakukan pergumulan sex dengan sejenis tapi Indra cepat dapat beradaptasi. Ia langsung tahu apa yang harus dilakukannya. Mungkin karena cowok ini sudah berpengalaman bercinta sebelumnya. Pada dasarnya ia hanya melakukan apa yang biasanya diperbuatnya saat bercinta. Memfungsikan seluruh organ tubuh untuk membangkitkan birahi pasangan bercintanya. Mungkin inilah yang dinamakan insting sexual. Di selangkangan Indra Adriansyah terus mengulum dengan giat. Tak lupa jarinya mengaduk-aduk lobang pantat Indra. Tentu saja hal ini membuat Indra semakin menggila. 
Tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pantatnya meresapi nikmatnya sodokan jari Adriansyah yang keluar masuk lobang pantatnya. Padahal sudah tiga jari Adriansyah yang keluar masuk lobang pantatnya itu. Namun Indra tak merasakan sakit. Hanya sensasi nikmat yang dirasakannya. “Ohhh… oohhhh….. a’.. a’… enak bangethhh…,” kata Indra meracau. “Kamu suka Ndra? Suka?” tanya Adriansyah. “Sukah a’… suka bangethh.. sshhh…,” “Mau aa’ kasih yang lebih enak Ndra?” “Apa itu a’? ahhhh… sshhhh…,” “Aa’ masukin ya pantat Indra?” “Masukin apahh a’? aghhhh..,” “Kontol aa’,” “Jangan a’ sakithhh…,” “Gak sakit Ndrah, coabin deh..,” “Jangan a’,” Tapi Adriansyah gak perdulia. Ia langsung bersimpuh diantara selangkangan Indra. Paha Indra diletakkannya diatas pahanya. Tangannya mencengkeram paha Indra kuat-kuat, menahan cowok itu agar tak bergerak. Indra ketakutan melihat kontol Adriansyah yang segede terong menyapu-nyapu bibir celah pantatnya. 
Wajahnya dipalingkannya kebawah, mencoba melihat apa yang akan dilakukan Adrianysah. Namun Daniel yang sedang keenakan gak rela kuluman Indra pada kontolnya terhenti. Ditariknya wajah Indra agar tetap mengulum kontolnya. Jadilah Indra mengulum kontol Daniel sambil melirik dengan mata mendelik melihat apa yang akan dikerjakan Adriansyah. Kepala kontol Adriansyah menekan ke celah pantat Indra yang basah oleh keringat dan lumuran baby oil dari jari Adriansyah. Dinding bibir celah pantat Indra melesak masuk ke dalam saat kepala kontol Adriansyah mendorong masuk. “A’ ahhh…….. ahhhh…,” Indra mengerang. Tak terlalu perih memang dirasakannya karena lobang pantatnya sudah licin dan tadi juga sudah disodok jari oleh Adriansyah. Namun anal sex adalah hal baru buatnya. 

Desakan kepala kontol Adriansyah ke lobang pantatnya cukup membuatnya kurang nyaman. Lobang pantatnya terasa penuh. “Pelan-pelan a’,” katanya lirih. Adriansyah mencium hidung mancung Indra.
“Tahan dikit ya Ndra. Entar juga enak kok,” katanya tersenyum. Kontolnya terus menekan masuk. Makin lama makin dalam. Sambil terus menggoyang pantat Daniel memperhatikan apa yang dikerjakan Adriansyah. Tangannya mengelus-elus rambut Indra yang hitam dan ikal. “A’ ohhh………… gede banget a’… ahhh………,” Indra mengerang. Adriansyah tersenyum bangga. 
Kontolnya emang gede. Pernah liat terong ungu? Nah segitulah ukuran kontol Adriansyah. Coba aja tes terong ungu masukin pantat, gimana rasanya. Kontol Adriansyah masuk sudah semuanya. Memenuhi rongga lobang pantat Indra. Jembut Adriansyah yang lebat dan kasar menggesek-gesek pantat Indra. “Gimana Ndra?” tanya Adriansyah tersenyum mesum. “Gila a’, kok bisa masuk ya?” sahut Indra tak percaya. Dilepaskannya kontol Daniel dari mulutnya. Kepalanya menoleh ke bawah memandang tak percaya pada lobang pantatnya yang sempit namun bisa menelan kontol Adriansyah yang gede seluruhnya. “Itulah kuasa Yang Maha Kuasa,” jawab Adriansyah sok bijak sambil nyengir. Ngawur, sedang begini kok ingat Tuhan. 
Indra hanya menggeleng-geleng tak percaya. “Gimana rasanya Ndra?” “Penuh a’,” jawab Indra. “Aa’ goyang ya,” kata Adriansyah. “Cobain a’,” jawab Indra. Adriansyah menarik kontolnya keluar. Tak seluruhnya. Indra mengerang. Gesekan kontol itu terasa aneh banginya. Sedikit perih namun kok enak. Adriansyah mendorong masuk lagi. Lalu tarik lagi, masuk lagi. “Ahhhhhh…. a’, gila enak a’,” kata Indra. “Enak kan, nikmatin yah,” Adriansyah bergerak terus. “A’ aohhh… a’ kali cewek ngerasain enak begini ya waktu memeknya dientot kontol,” kata Indra. “Mungkin Ndra.. ahh.. ahhh…,” “Pantes mereka doyan a’, ahhh… ahhh… ahhh….,” “Ndra kontol gue emut lagi dong,” kata Daniel. Rupanya dia keqi juga dicuekin. Indra segera menyeruput kontol Daniel lagi. Kulumannya makin semangat. Soalnya dia keenakan sih dientot Adriansyah. Jadis emangatnya makin menggelora. 
“Ouhh… slurrppp…slurrpp… ohhmmm….mmhh,…. aohhh… slururppp..,” mulut Indra rame dengan lenguhan, erangan dan suara sedotan. Adriansyah terus bergerak. Makin lama makin cepat, menimbulkan suara kecipak dan tepukan yang keras. Mulutnya mencari dada bidang Indra. Kemudian sibuk melumat dengan buas. Ketiga laki-laki itu begitu binal. Tubuh mereka basah bersimbah keringat. Mengkilap membuat otot-otot mereka semakin terlihat tegas lekuknya. Mereka benar-benar sudah hanyut oleh birahi yang liar. Seandainya saja cewek-cewek mereka melihat apa yang mereka kerjakan saat ini pasti akan syok. Tak menyangka kekasih mereka yang jantan ternyata begitu binal bermain cinta dengan sesama jenisnya. Mereka bercinta seperti kesetanan. Buas. Aroma keringat mereka yang jantan (bukan bau apek lho) memenuhi ruang ganti yang sempit itu. Hal ini malah membuat birahi mereka semakin menggila. Pantat Adriansyah bergerak sangat cepat. 
Indra mengerang antara enak dan sakit. Dalam hati Indra tersenyum, tak menyangka kalau biasanya selama ini ia yang bergerak cepat mengentot kini malah ia yang dientot seperti ini. Dan ternyata ia sangat menikmatinya. Lima belas menit berlalu. “Ndri, gantian dong,” kata Daniel. Rupanya diapun kepengen. “Ahhh… ah… ahhh.. dikithh.. lagihh.. Nielhh.. ahhh… ahhh.. ahh..,” jawab Adriansyah. Gerakannya semakin cepat dan menghentak-hentak kuat. Ini tanda-tanda orgasme akan segera datang. “Dah mau keluar a’,” tanya Indra. “He eh.. ahhh… ahhh… ahhh… ahhh..,” Adriansyah mencium dan mengulum tetek Indra dengan kuat. Lalu pantatnya menghetak keras untuk kemudian menekan kuat. Kontolnya berdenyut-denyut. Tak lama dari lobang kencingnya menyembur cairan kental dan hangat. 
Menyemmprot deras membasahi rongga pantat Indra. “Erghhhhh…,” Indra mendengus. Semprotan itu menimbulkan sensasi yang aneh baginya. Nikmat. Tubuh Adriansyah roboh menindih Indra. Ototnya menegang. Daniel melepaskan kontolnya dari multu Indra. Tubuh Adriansyah digesernya kesamping.

Seleksi Tim Voli 1

Daripada setiap hari sabtu dan minggu molor di kos-kosan karena gak ada kegiatan perkuliahan, Indra akhirnya mutusin ikut dalam club volly yang ada dikampusnya.
Kebetulan semester ini ada rekrutmen anggota baru. Semester lalu Indra memang mutusin untuk full kegiatan akademik karena masa itu awal ia kuliah setelah lulus SMU. Saat itu ia tak ingin diganggu dengan segala tetek bengek selain kegiatan akademik. 
Ternyata setelah menjalaninya satu semester kegiatan akademik tidaklah berat-berat banget. Ia lebih banyak molor di kos seusai pulang kuliah plus sabtu minggu. Semula ia membayangkan kuliah di Fakultas Teknik Elektro ITB akan membuatnya sibuk dengan belajar dan belajar. Ternyata gak gitu-gitu amat rupanya. Meski tak terlalu ngotot belajar, semester ini nilai akademik Indra ternyata bagus-bagus semua. Sangat banyak kegiatan eskul di kampusnya ini. Mulai dari masak memasak sampai panjat tebing. Lengkap banget. 
Karena memang sejak SMU doyan volly akhirnya Indra mutusin gabung di club volly aja. Satu semester gak latihan volly membuat bodynya yang kekar dirasakannya sedikit berlemak. Itu perasaan Indra doang. Coba tanyain si Dini, selingkuhannya di kampus, ia tidak merasa tubuh Indra berlemak. Ia awam soal otot-otot lelaki. Tubuh Indra menurutnya sexy abis. Tinggi, kekar, dan proporsional. Sangat menggairahkan bagi cewek-cewek di kampus. Apalagi kalo Indra cuman pake celana renang doang saat di kolam renang, semua cewek bakalan melototin tubuh Indra yang memang oke banget. Ramping tapi penuh otot. Tapi itulah, mungkin karena ia olahragawan maka Indra lebih tahu kalau di tubuhnya yang kekar itu mulai nongol lemak-lemak. 
Jadi jangan protes kalau ia tetap mutusin untuk ikutan club volly. Saat nelpon ke Reny kekasihnya di Palembang sang cewek setuju-setuju aja Indra ikutan club volly. “Yang penting jangan terlalu capek sayang, nanti gak bisa belajar dengan baik lagi,” pesan mesra Reny dari seberang pulau. Sebagai informasi Indra ini asal Palembang. Turunan Arab dan Melayu Palembang. Bayangin aja gimana gantengnya tuh anak. Lulus SMU ia kuliah di Bandung. Sementara Reny sang pacar tinggal di Palembang karena gak lulus SPMB. Akhirnya tuh cewek harus kuliah di perguruan tinggi swasta disana. Niatnya tahun depan ikutan SPMB lagi supaya bisa lulus dan sama-sama kuliah di Bandung. Jadi bisa deket-deketan dengan Indra. Reny memang bertekad kuat agar lulus SPMB tahun depan. Selain pengen kuliah di PTN favorit juga supaya bisa mantau kelakuan si Indra. Reny soalnya tau banget kelakuan binal cowoknya yang ganteng ini. Gila sex. Kalo gak ngentot seminggu aja palanya bisa puyeng. Libidonya gila-gilaan. Untung aja Reny bisa nandingin gila sexnya Indra. 
Makanya Indra sampe sekarang masih betah pacaran dengan dia. Sebelum dengan Reny Indra udah berkali-kali gonta-ganti pacar. Reny itu awalnya selingkuhannya juga. Tapi karena ngesex dengan Reny bisa memuaskan Indra maka akhirnya Indra mutusin untuk jadian aja dengan Reny. Meninggakan pacar-pacarnya yang laen. Awal kuliah, Indra nyoba untuk setia dengan Reny. Gak mau pacaran dan cari cewek lain. Tapi mana tahan dia. Baru seminggu kuliah kepalanya udah puyeng. Apalagi kepala bawahnya. Hehehe. Begitu kenal Dini, mahasiswi fakultas ekonomi Unpad yang mojang Bandung asli itu, niatnya untuk setia pada Reny terlupakan sudah. Dini kini jadi pasangan tetap ngesexnya. Tiada hari dilewatinnya tanpa nyemprotin memek Dini pake spermanya. Meski tak sehebat Reny, namun Dini cukup bisa memuaskan kebutuhan ngesexnya Indra. 
Dan karena itu Indra masih tetap jadian dengan Reny. Ia masih pengen kalo balik ke Palembang bisa ngesex sepuasnya dengan ceweknya sejak SMU itu. Hari Sabtu pagi Indra udah nongkrong di gelanggang olah raga. Biasanya Sabtu dan Minggu pagi, gelanggang oleh raga ini rame dengan mahasiswa yang berolah raga. Gelanggang ini bisa digunakan untuk volly, basket dan juga badminton. Tapi nampaknya Sabtu ini gelanggang khusus dicarter oleh club 

volly untuk ngadain rekrutmen. Ada dua puluh laki-laki bertubuh tinggi atletis menggenakan pakaian olah raga yang seragam warnanya. Kaos lengan pendek warna biru muda dan celana pendek warna biru tua.
Mereka adalah anggota inti club volly yang akan merekrut sepuluh mahasiswa baru termasuk Indra. Dengan stelan kaos lengan pendek, celana pendek dan sepatu olah raga yang berbeda-beda sepuluh calon anggota baru club volly sudah berbaris rapi. Siap mendengarkan arahan dari salah seorang anggota tim volly. Indra mengenal mahasiswa yang akan memberikan arahan itu. Adriansyah namanya, tepatnya Teuku Adriansyah. 
Mahasiswa teknik mesin semester V, asal Aceh. Adriansyah ini adalah ketua club volly. Anaknya bener-bener jago maen volly. Bila dia turun main membela kampus maka penonton akan bersorak-soari mendukungnya. Apalagi cewek-cewek. Selain menikmati permainannya yang oke, cewek-cewek ini juga sekaligus menikmati keindahan fisiknya. Wajahnya ganteng ditopang tubuh bertinggi berat 178 cm dan 65 kg. Siapa yang gak ngiler liatnya. “Hari ini kita mengadakan serangkaian tes. Bisa jadi kalian diterima seluruhnya. Namun bukan tidak mungkin satupun dari kalian tidak ada yang diterima. 
Kami hanya merekrut mereka-mereka yang benar-benar berkualitas, patuh pada aturan club, dan loyal melaksanakan perintah senior, demikian Adriansyah mengawali arahannya. Sepuluh calon anggota baru manggut-manggut. Adriansyah menyambung lagi kata-katanya,”Tes pertama adalah wawancara sekaligus tes kemampuan fisik. Disini para interviewer akan meneliti secara komprehensif kesungguhan dan motivasi kalian bergabung di club. Selain itu juga untuk mengorek informasi pengalaman yang kalian miliki di bidang olah raga khususnya volly. Karena itu seperti yang diumumkan dalam selebaran pengumuman, apabila kalian memiliki piagam, sertifikat penghargaan berkaitan dengan kegiatan olah raga silakan diperlihatkan pada interviewer nanti. Selain itu pewawancara juga akan mengetes fisik kalian. Silakan tunjukkan kemampuan fisik kalian yang prima. Tes wawancara dan fisik ini akan berakhir siang nanti menjelang makan siang. Setelah makan siang dan istirahat tes akan dilanjutkan dengan kemampuan bermain volly hingga selesai. Barangkali itu aja, ada yang pengen bertanya?” tanya Adriansyah. Semua diam. “Baiklah kalo gitu. Karena enggak ada yang ngajuin pertanyaan, maka kita mulai saja tes wawancara dan fisik. 
Masing-masing kalian akan dibawa oleh dua orang senior ke tempat wawancara yang tempatnya ditentukan oleh senior itu sendiri. Dimanapun tempatnya kalian tidak boleh protes. Meskipun di toilet sekalipun. Semua pertanyaan harus dijawab, semua perintah senior harus dilaksanakan dengan patuh dan tanpa protes. Ini perlu saya tekankan sekali lagi. Hasil tes wawancara dan fisik sangat menentukan lulus tidaknya kalian nanti,” Adriansyah mengakhiri arahannya. Ini sih namanya plonco dibungkus rekrutmen, batin Indra. Tapi dia cuek aja. Itung-itung latihan mental dan fisik, katanya dalam hati. Satu persatu calon peserta dibawa oleh dua orang senior ke tempat wawancara. Beneran, ada juga yang dibawa ke toilet wanita, hehehe. 
Akhirnya tiba giliran Indra. Yang membawanya adalah Adriansyah dan seorang senior berkulit hitam. Daniel Marantika namanya. Meski hitam orangnya ganteng banget. Hidungnya mancung, rahangnya kukuh dan tubuhnya kekar sekali. Daniel ini adalah kapten tim volly kampus saat ini. Indra merasa bangga karena yang mewawancarainya adalah sua orang yang sama-sama punya nama di club. Indra mengikuti langkah Adriansyah dan Daniel yang membawanya meninggalkan lapangan. 
Mereka membawanya ke salah satu ruang ganti yang banyak terdapat dipinggir lapangan. Ruang ganti itu tidak terlalu besar ukurannya. Hanya sekitar lebih kurang 3 x 3 meter persegi. Biasanya digunakan untuk tempat ganti pakaian empat sampai lima orang. Adriansyah dan Daniel mempersilakan Indra memasuki ruangan. Didalam sudah disediakan tiga kursi lipat disusun berhadapan.

Indra dipersilakan duduk menghadap kedua senior itu. Sebelum memulai wawancara Indra melihat Daniel mengunci pintu ruang ganti dan mengantongi kunci itu di saku celana pendeknya. “Nama?” tanya Adriansyah mengawali wawancara. “Indra,” jawab Indra singkat.
“Nama lengkap dong,” sela Daniel. “Muhammad Indra Ramadhan,” jawab Indra lagi. “Hmmm… nama yang bagus,” Adriansyah manggut-manggut, “Turunan Arab ya?” sambungnya. “Iya,” jawab Indra sambil mikir kok mesti nanya-nanya SARA sih. “Asal?” “Palembang,” “Disini tinggal sama siapa?” “Kos,” “Dimana?” “Dago,” 
Bergantian Adriansyah dan Daniel mengajukan pertanyaan. “Mmm udah punya cewek?” ini Daniel yang nanya. Lho, kok nanya yang beginian sih? Batin Indra. Aneh. Gak nyambung sama urusan volly. Tapi karena ingat arahan Adriansyah di lapangan tadi segala pertanyaan harus dijawab tanpa protes, maka dijawab juga pertanyaan itu oleh Indra. “Udah a’,” “Cool, dimana ceweknya sekarang?” “Di Palembang a’ dia gak lulus SPMB kemaren,” “Pacaran jarak jauh nih ceritanya. Punya labaan dong disini,” kata Adriansyah tersenyum nakal. Waduh, kok makin ngawur pertanyaannya. “Kok pertanyaannya gak soal volly a’,” tanya Indra. “Tadi kamu dengar arahan kan. Semua pertanyaan harus dijawab. Kita berdua bebas nanyain apa aja dan kamu gak boleh protes. Kalo gitu wawancaranya dihentikan aja, kamu boleh pulang,” ancam Daniel. Indra jadi serba salah. “Bukan gitu a’. Sorry kalo gitu. Apa tadi pertanyaannya? O iya labaan ya.. mmm…. ada sih. Namanya juga laki-laki a’, hehehe,” Indra nyengir grogi. Adriansyah dan daniel menatap tajam padanya. Indra makin grogi jadinya. “Pernah ngesex dong. Sering mungkin,” tanya Daniel dingin. “Ernggg… pernah a’. Aa’ berdua juga pernah kan, hehe,” Indra coba mencairkan suasana. 
Tapi percuma. “Yang ditanya kamu, bukan kami. Jadi gak usah bertanya soal kami,” Adriansyah berkata sama dinginnya seperti Daniel. “Pernah apa enggak?” “Pernah a’,” Indra makin grogi. “Sama dua-duanya?” tanya Daniel. “Iya,” “Berapa kali seminggu?” “Bisa empat sampai lima kali a’,” “Nafsu gede kamu ya,” “Gak juga a’,” “Kebanyakan ngesex gak loyo badan kamu? Bisa ganggu aktifitas olah raga dong,” tanya Adriansyah. Nah ini pertanyaan udah mulai ke masalahnya, fikir Indra. Semangat Indra menjawab. “Enggak lah a’. Malah semakin semangat. Yang penting stamina tetap dijaga. Saya selalu makan makanan yang bergizi dan minum susu,” “Hmmm… gitu ya,” “Iya a’,” “Gak takut pacar dan labaan kamu hamil?” tanya Daniel. Pertanyaannya kok balik-balik ke soal sex lagi sih? Fikir Indra. Tapi dia tak mau protes lagi. “Enggak a’. Kan ngesexnya tembak luar,” “Tembak luar?” “Ejakulasinya dilakukan diluar a’,” “Kurang jelas,” kata Daniel. Gimana sih? Udah segede ini masak mereka berdua gak ngerti, batin Indra. Percuma ganteng-ganteng dan body gede kayak gini kalo gak pernah ngesex. Masak gak ngerti tembak luar. Ada-ada aja. Kata Indra dalam hati. 
“Maksudnya gini a’, kalau sperma udah mau nyembur maka penis dicabut dari vagina. Terus spermanya disemburin di luar,” “Mmmm… disemburin dimana spermanya?” tanya Adriansyah cuek. Astaga! “Ya terserah a’. Bisa di perut. Di dada, di muka, terserah,” “Mmm gitu ya,” “Iya a’. Aa’ berdua belon pernah ya?” “Kok nanyain kita berdua?” “O iya a’. Lupa,” “Waktu dikeluarin di luar, penisnya dikocok-kocok sendiri dong,” “Ya iya dong a’,” “Sama dengan coli dong kalo gitu,” “Gak dong a’. Kalo ini kan sempat dimasukin vagina. Kalo coli kan enggak. Pake tangan doang,” “Kurangs eru ya Niel,” kata Adriansyah pada Daniel. “Iya. Tembak dalam baru asik,” “Aa’ berdua suka tembak dalam ya. Gak kuatir entar hamil?” “Ngapain takut hamil, kita tau caranya supaya gak hamil kok,” “Pake kondom ya a’,” 
“Buang-buang duit pake kondom,” “Hitung kalender ya,” “Kayak akuntan aja pake hitung-hitungan,” “Aa’ berdua ikutan vasektomi ya, maaf lo a’,” “Enak aja. Sialan lo,” Indra nyengir. “Abis gimana dong?” “Mau tau caranya?” “Boleh a’,” “Sabar ya. Entar pasti dikasih tau. Sekarang lanjutin wawancara aja dulu,” “Yaa…,” Indra mulai penasaran.

SELEKSI TIM VOLI 4

Anak satu ini emang gila sex. Jadi kalo udah dipancing bicara soal itu maka dia akan semangat banget. “Penasaran ya,” “Iya..,” “Hehehe. Sabar ya Indra. Eh, ngomong-ngomong kamu punya penyakit dalam gak?” “Penyakit dalam? Gak ada a’. Saya sehat luar dalam,”
“Korengan gak lo,” “Aa’ ada-ada aja,” “Bawa surat keterangan dokter?” “Gak ada a’. Kan gak ada disuruh bawa. Saya cuman bawa piagam dan sertifikat prestasi olah raga doang,” “Kamu harusnya kreatif dong. Meski gak disuruh, harusnya bawa. 
Soalnya kan itu bukti otentik mengenai keterangan kamu sehat atau enggak. Siapa tau diperlukan. Ternyata sekarang diperlukan kan?” kata Adriansyah. “Trus gimana dong a’?” “Kamu harus buktiin dong kalo kamu emang bener sehat luar dalam,” “Aa’ bisa liat kan tubuh saya gak ada koreng atau sejenisnya. Aa’ liat deh,” Indra mengangkat kaosnya ke atas menunjukkan perut dan dadanya yang putih bersih. Juga mengangkat celananya menunjukkan pahanya yang berotot itu benar-benar putih bersih. 
Gak ada bekas koreng. Adrianysah dan Daniel serius memandangi. “Itu kan luarnya doang, dalemnya gimana. Kita harus mastiin kamu itu emang sehat luar dalem. Kalo enggak kita gak bisa ngelulusin,” Daniel ngomong berwibawa. Indra mengkeret. Ia gak mau gak lulus seleksi hanya karena hal sepele doang. “Kalo gitu nanti saya urus surat keterangannya a’,” “Kita perlunya sekaranga,” “Saya benar-benar gak ngerti harus gimana a’. Sekarang terserah aa’ berdua aja gimana caranya,” “Kalo kita periksa mau? Gini-gini kita pernah jadi anggota PMR, jadi ngerti kesehatan tubuh manusia,” terang Adriansyah. “Terserah aa’ aja,” Indra pasrah. “Oke kalo gitu. Bawa steteskop Niel?” “Bawa dong. Ada di tas,” Daniel beringsut mengambil steteskop ditas ransel yang dibawanya. Indra bingung anak teknik kok bawa-bawa steteskop, kayak dokter aja, fikirnya. 
“Kenapa? Bingung ngelihat Daniel bawa ginian. Ini namanya mengantisipasi orang-orang kayak kamu,” terang Adriansyah menjawab tanda tanya Indra. Jawaban ini membuat Indra nyengir malu, Adriansyah ternyata bisa menebak fikirannya. “Sekarang buka baju biar diperiksa kesehatan kamu,” kata Adriansyah. “Berdiri disitu,” Indra berdiri lalu melepaskan kaosnya. Kemudian tegak menunggu. “Celananya juga,” kata Daniel. “Celana?” Indra meyakinkan. Ia memandang Daniel dan Adriansyah bergantian. “Iya celananya juga. Celana dalam juga. Sepatu ama kaos kaki enggak usah,” sahut Adriansyah. “Telanjang maksudnya?” “Yup,” “Buat apa?” “Siapa tau elo ambeyen,” “Enggaklah a’. Saya gak ambeyen,” “Makanya buka semua. Kalo emang gak ambeyen ngapain takut,” “Bukan takut.. tapi…,” “Malu? Ada-ada aja. Sama-sama cowok juga kok mesti malu. 
Atau kami perlu telanjang juga sekalian supaya kamu enggak malu?” “Enggak usah a’,” Indra segera melepaskan seluruh pakaiannya. Kini tubuhnya yang kekar telanjang bulat dihadapan Adriansyah dan Daniel. “Suka fitness ya Ndra?” tanya Daniel. “Rutin a’. Seminggu dua kali,” “Pantes. Renang juga ya?” “Iya,” “Otot lengan, dada, dan perut kamu terbentuk bagus jadinya,” kata Adriansyah. Dengan santai ia meremas otot-otot Indra, membuat cowok ini merasa risih. Adriansyah menempelkan steteskop di dada bidang Indra. Ia mendengarkan dengan serius degup jantung pemuda itu. Berdiri telanjang dihadapan dua cowok seperti itu membuat Indra deg-degan. Jantungnya berdegup kencang. “Kok degupannya keras banget Ndra. Jangan gugup dong,” kata Adriansyah. Indra nyengir. Stetoskop berpindah-pindah tempat. 
Dari dada kiri ke kanan. Ke perut dan sebagainya. Indra bingung kok meriksanya begitu sih? Fikirnya. Adriansyah mengehentikan pemeriksaan steteskopnya. “Ada yang perlu diperiksa lagi Niel?” tanyanya. Daniel mengangguk, ia berdiri di belakang Indra. Jemarinya mengelus punggung pemuda itu. Kemudian turun kebawah ke pinggang dan buah pantat Indra. “Kamu bungkuk deh. Nungging,” kata Daniel. “Untuk apa a’?” “Saya mau mastiin kamu ambeyen atau enggak?” jawab Daniel. Indra akhirnya nurut. Ia membungkukkan badan dan melebarkan pahanya.

Gay SMP

Aku mengenal dunia ini saat umurku masih sangat muda sekali. Namaku Andi, ini berawal saat umurku 12 tahun. Setelah aku tamat SD pada tahun 1994 aku berniat melanjutkan ke SLTP. Akan tetapi karena di desaku tempatnya terpencil di Propinsi Lampung tidak terdapat SLTP, aku terpaksa sekolah di tempat kakakku di kota kecil yang bernama Kota Bumi. Sebenarnya bisa saja aku langsung sekolah di Bandar Lampung di tempat kakakku yang lain, maklum kami berjumlah 7 bersaudara dan kebetulan aku anak bungsu. 

Namun entah mengapa aku mempunyai firasat yang mengatakan bahwa jika aku sekolah di Kota Bumi aku akan menemukan kebahagiaan. Setelah sampai di rumah kakakku, aku dikenalkan kepada anak angkatnya yang secara otomatis keponakan angkatku sendiri. Dia anak laki-laki yang bernama Anto umurnya 3 tahun lebih tua dariku, namun karena dia terlambat masuk masuk sekolah jadi ia baru kelas 2 atau tepatnya kakak kelasku. Kebetulan kami satu sekolah dan juga aku satu kamar dengan dia. Kami berdua cepat akrab dan selalu bersama setiap saat dan setiap waktu dengan bahagia. 
Hubungan kami sangat sangat erat lebih dari saudara. Ia selalu menemaniku, menghiburku disaat aku sedih, dan begitu pula sebaliknya. Sehingga tak jarang kami digosipkan yang yang tidak-tidak, baik itu di sekolah atau di lingkungan tempat kami tinggal, tapi kami hanya menganggap hal itu sebagai angin lalu, dan tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.

Karena di Kota Bumi jika musim kemarau susah air, maka kami tak jarang mandi di sungai. Sering kami bedua mandi telanjang dan selalu memperhatikan kemaluan kami masing-masing. Walaupun batang kemaluannya dalam keadaan tidak tegang namun cukup besar. Lama kelamaan ada rasa suka dalam diriku kepadanya dan tampaknya dia pun begitu namun kami hanya bisa menyembunyikan rasa suka kami. Sehingga jika kami tidur aku sering menggodanya dengan cara memancingnya untuk membicarakan hal-hal yang merangsang, dan hal itu memang berhasil, karena sering kulihat ia menikmatinya. 
Dan tak jarang batang kemaluannya menegang dan ia bahkan menuntun tanganku untuk membelai batang kemaluannya yang memang cukup besar. Kami juga sering berciuman dan saling meraba dan memegang batang kemaluan kami secara berlawanan. Bahkan aku sudah mulai berani mencium batang kemaluannya tapi masih jijik untuk melakukan oral. Hal itu sering kami lakukan tiap malamnya tetapi hanya sebatas meraba dan berciuman, karena saat itu mungkin kami sama-sama belum sadar jika kami berdua adalah gay dan juga ditambah dengan keluguan kami yang tidak mengetahui cara berhubungan antar sesama lelaki.
Tak terasa 3 tahun sudah aku tinggal di sana dan aku juga sudah menyelesaikan sekolahku tingkat SLTP. Aku harus ke Bandar Lampung untuk melanjutkan sekolah tingkat SMU. Sejak saat itu aku jarang ke Kota Bumi karena aku sibuk dengan tugas dan kegiatanku yang baru. Namun pada saat umurku 17 tahun yaitu awal Maret tahun 1999 aku diminta menemani ayahku ke Kota Bumi. Sesampainya di sana, aku kaget melihat Anto karena ternyata ia tumbuh menjadi pria yang gagah dan ganteng. Hatiku berdegub saat aku tahu kalau aku akan tidur dengannya malam itu.

Ketika hari telah menunjukkan pukul 20:00 WIB aku masuk kamar duluan untuk tidur duluan karena perjalanan yang cukup panjng membuatku lelah dan mengantuk. Namun aku sulit untuk memejamkan mata karena aku terus teringat kepadanya dan terus memikirkannya. Tidak berapa lama kemudian Anto masuk dan menutup pintu. Jantungku semakin berdegub kencang. Ia lalu mematikan lampu sehingga yang kelihatan hanyalah kegelapan. Tidak berapa lama kemudian ia berbaring di sampingku.

 Kemudian ia mengeluarkan sepatah kata, "Malam ini dingin ya," ujarnya. Aku hanya diam saja. Namun tak berapa lama kemudian kurasakan tangannya memegang tanganku dan menuntunku untuk memegang batang kemaluannya yang ternyata dia sudah tidak berbusana lagi. Aku belai batang kemaluannya yang panjang dan besar, ia pun mengerang keenakan. 
Kemudian ia melepaskan seluruh pakaianku setelah itu ia langsung menindihku sehingga batang kemaluan kami yang sudah sama-sama tegang bersenggolan. Ia mencium mulutku, kupingku, dan segala anggota tubuhku basah karena dijilatnya. Aku yang pertama melakukannya heran seganas itu tapi dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sungguh senang.


Kami sama-sama mengerang keenakan. Apalagi saat mulutnya mengulum kemaluanku, gerakan kepalanya yang maju mundur membuatku merasa kenikmatan yang tiada taranya. Ketika aku keluar semua spermaku disedotnya namun tidak ditelannya melainkan ditumpahkannya ke batang kemaluannya dan sebagian ke diusapkannya kepantatku kemudian jari tengahnya masuk ke lubang pantatku agar lubang anusku licin. Aku mengerti maksudnya lalu aku bangun dan duduk di atas perutnya kutuntun batang kemaluanku masuk ke lubang anusku. 
Ketika mulai masuk aku mengerang kesakitan dan hendak akan bangun namun dia mencegahku. Lalu perlahan-lahan aku mulai menurunkan pantatku. Walaupun sakit kutahan dan hanya sampai setengah batang kemaluannya yang masuk, aku mulai menaik dan menurunkan pantatku gerakan itu kulakukan berulang-ulang walaupun aku merasakan rasa sakit yang luar biasa tapi lama kelamaan hal tersebut membuatku terbiasa dan mulai biasa menikmatinya. 
Dan tidak berapa lama kemudian dia memintaku untuk mempercepat gerakanku. Aku mengerti kalau dia akan keluar, benar saja tidak berapa lama kemudian dia keluar dan aku bisa merasakan spermanya tumpah dalam anusku. Setelah itu aku berbaring di sampingnya.

Aku lalu mengambil sarung dan kusuruh dia masuk ke sarungku. Kami tidur dalam keadaan bugil dalam satu sarung. Keesokan harinya aku kembali ke Bandar Lampung. Sesampainya aku di Bandar Lampung aku terus teringat dan selalu membayangkannya. Rasa rinduku yang begitu besar tak bias kutahan. Pada hari Sabtu sepulang sekolah aku ke Kota Bumi.

Album Dokter

Saya, laki-laki, bekerja di Rumah Sakit Persahabatan sebagai seorang perawat. Saya dan dokter Donny sudah lama kenal, tetapi saya masih takut mengenal lebih jauh dan akrab, lantaran dia atasanku langsung. Dr. Donny masih hidup bujangan, wajahnya tampan… mungkin mirip Donny Damara aktor sinetron dan peragawan itu.
Saya sudah lama kagum dengan penampilan dokter Donny, dan selalu berimaginasi bahwa dia itu seorang gay, dan aku dengan senang hati mau melayaninya. Badannya tidak sekerempeng aktor Donny Damara… malah sebaliknya, dia sangat fit, kekar dan penggemar serta pemain basket cukup fanatik. Usianya sebaya dengan usiaku, sekitar 30-35 tahun.
Keahliannya sebagai internis membawaku ikut memeriksa peserta cek medik tahunan yang terdiri atas pejabat berbagai instansi pemerintah dan swasta cukup top… dan paling syurr bila pejabatnya dari generasi muda, yaitu para eksekutif muda yang begitu fit, enak dipandang dan berwajah rata-rata apik. Rumah Sakit Persahabatan memang cukup terkenal melayani kegiatan itu. Saya paling suka bila diajak memeriksa rektum alias anus para pasien. Dr. Donny dengan sarung tangan karet selalu mengantarkan para pasien dengan gurauan ringan untuk menghindarkan rasa jengah karena pasien harus mengangkang, bugil dan mengekspos silitnya untuk dicoblos dengan jari telunjuk kanan atau kiri milik Dr. Donny yang cukup besar-besar. 
Pernah, suatu saat, seorang pasien masih lumayan muda, usia di bawah 40 tahun, berwajah cukup ganteng agak gemetaran mengikuti tes rektum itu. Dia sungguh-sungguh tampak tersipu mengangkangkan kakinya dan membiarkan kedua pasang mata kami melihat dari dekat selangkangannya dan kontolnya yang aduhai besarnya dengan hiasan jembut yang tebal dan menjambung ke perut dan dadanya yang indah kekar penuh bulu. Bahkan jembut itu menutupi pula belahan bokongnya sehingga silitnya agak tersembunyi. Pasien itu bernama Indra. 
"Dok, saya malu…"
"Masak, nggak apa-apa. Cuma sebentar kok. Pula tes ini penting untuk menge-tahui apakah ada gejala ambeyen atau tidak pada anus Bapak," jawab Dr. Donny tenang.
"Tapi… apa tidak sakit. Dok ?" kilahnya lagi. 
"Coba saja…. Hemmh, barangkali malah…." seloroh Dr Donny.
Kata-kata itu begitu saja meluncur, membuat aku yang tegang mengintip dari punggung Donny jadi tiba-tiba makin ngaceng. Kontolku sudah ngaceng melihat Indra buka baju dan kemudian telentang, makin ngaceng lagi ketika dia mulai mengangkang dan menampakkan kontolnya yang rupanya juga sudah "agak" ngaceng atau memang besar dan agak kaku dalam keadaan normal. Kini, terasa ada tetesan basah di ujung kepala kontolku karena rangsangan seksual melihat adegan dan dialog gila ini. 

"Coba ya Pak… Nama Bapak siapa ?"
"Indra nama saya. Nama Pak Dokter ?"
"Ohh… saya Donny, dan ini asistenku.. Rudy."
Kulihat Indra melirikku sekilas dan memperlihatkan muka aneh, seperti sedang mengagumiku.
Saya tidak sedang lagi menyombong nih, muka saya dan postur saya bagus, mirip Advent Bangun lah, dan orang sering mengolok-olok saya dan Donny sebagai pasangan aktor di RS Persahabatan.
Bangga sih memang bangga, diasosiasikan dengan keaktoran di Indonesia yang notabene berarti cakep (Mana ada sih, aktor Melayu yang jelek… pasti kaliber Indojerman, macam Barry Prima, Reynaldi, Fathur, atau kalau cewek ya… Minati, Henny Purwonegoro, dan lain-lain.). 
"Terasa sakit, Pak Indra ?" tanya dokter Donny ketika jari telunjuk dan ibu jarinya menyusupkan tabung periksa berdiameter sekitar 1.5 cm ke dalam anus Indra. Tabung dari stainless steel ini sudah barang tentu telah diberi lubrikasi vaselin agar tidak membuat sakit berlebihan ketika dipenetrasikan ke dalam anus pasien.
Indra semula tampak takut dan memejamkan mata. "Ahhh… enggak Dok," jawabnya. 
"Rudy, tolong ambilkan handuk di kamar kerjaku," tiba-tiba Dokter Donny meminta saya ke kamar sebelah. Aku agak segan, tapi karena diperintah atasan yaa.. segera aku beranjak. Padahal aku lagi tegang menyaksikan tes anus yang merangsang seksku. Aku sebenarnya juga enggan, karena celanaku memang mulai basah……. 
Dokter Donny kemudian berucap lagi, " Pak Indra, segera akan saya korek bagian dalam rektum Bapak dengan telunjuk saya… Ditahan ya, kalau ada rasa sakit." 
Tiba-tiba saja, telunjuk kiri Donny yang terbungkus sarung tangan sudah nyelonong memasuki lubang tabung yang sudah membuka anus Indra, dan telunjuknya yang lebih panjang daripada tabung tes tadi mulai diusapkan melingkar meraba-raba permukaan dalam silit Indra. 
Indra tetap memejamkan mata dan dari rasa (pura-pura) khawatir, kini dia merasakan adanya rangsangan aneh yang menggelitik anus dalamnya oleh masuknya telunjuk Donny. Tanpa sadar Indra melenguh pelan, "Uhhhh….hemmm."
"Ya, Pak Indra…. Apakah sakit." 

"Ahhhh… enggak…" jawabnya pelan sambil melepas senyum berarti, yang tak akan mencurigakan bagi orang biasa. Tapi di hadapan Donny, senyum itu tak bisa terlepas dari pengamatannya, karena sejak tadi Donny memang sedang mengamati wajah Indra yang tampan yang lagi indah memejamkan matanya…….…
Ya, Indra memiliki sebuah wajah tampan idaman bagi Donny yang gila laki-laki, terutama yang sudah berusia matang alias setengah umur tapi masih tampak muda dan kekar.
Tangan Donny makin berani, kini bukan sekedar melakukan gerak usap melingkar, tetapi justru menyodok-nyodok ke depan-belakang yang sebetulnya sudah merupakan penyimpangan prosedur dalam tes ambeyen. 
"Yahhhh…. Hemmmmmmmmmm," desah Indra makin nyata dan keras. Dan kontolnya yang semula hanya setengah tegak kini betul-betul ereksi penuh tanpa dapat dibantah. Dokter Donny pun tanggap; dengan sigap ditariknya telunjuknya yang bersarung karet itu dari anus Indra dan segera pula tabung pembuka anus tadi dicabutnya cepat sampai berbunyi "plupppp". 
Indra segera melenguh panjang, "Ohhhhhh…. Sayang!!" Ada segumpal perasaan kehilangan dari semula merasa penuh terisi tabung dan telunjuk Donny, tiba-tiba terasa hampa begitu saja.
"Apa yang disayangkan Pak Indra…?"
"Dok…. Tadi enak…Ulang lagi dong."
"Ahh, pak Indra bergurau ya."
"Tidak Dok, aku serius nih…"
Tiba-tiba saja tangan kiri Indra menggapai ke arah selangkangan Donny dan merabanya dari luar baju jas dokternya. 
"Loh Pak Dokter…. anda… ?" 
"Ya.. ya.. Pak Indra…Saya…." Tergopoh Donny menjawab sekenanya untuk pertanyaan yang juga tidak jelas arahnya tapi jelas maknanya. Memang kontol Donny sudah tidak tahan berada dalam kungkungan celdalnya dan ngacengnya sudah begitu kentara mendesakkan benjolan nyata di celana panjangnya, tetapi untunglah hal itu masih dapat ditutupi dengan jas prakteknya. 

Namun tangan kiri Indra akhirnya berhasil mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dengan kontol Donny.
"Dok… boleh aku…. Aku minta sesuatu?"
"Katakan saja Pak Indra, syukur-syukur saya bisa penuhi."
"Anu… bisa tes tadi diulang, tetapi tanpa ring logam yang dingin itu ?"
"Maksud Bapak, cuma dengan jari saya ?"

"Yaa… itu pun tanpa kaus tangan karet yang bikin pedih itu. Bisa, kan ?" 
"Ya, dengan senang hati Pak." 
Donny segera membuka sarung tangan karet dan kemudian memberikan vaselin di sekujur jari telunjuk kirinya dan dia segera membungkuk ke arah selangkangan Indra. Mulutnya dibuka dan bersamaan dengan masuknya jari telunjuk kirinya ke dalam silit Indra, mulut Donny mengulum kontol Indra yang ngaceng berat. Pada saat bersamaan, tangan kiri Indra meraba kontol Donny dan berusaha membuka kancing risliting celana Donny. Donny diam saja membiarkan usaha Indra menggapai kontolnya. Dan… berhasil!! Keluarlah kontol Donny yang 17 cm dan gede yang sudah ngaceng penuh. Tangan Indra otomatik mengocok-kocok kontol itu dengan lembut dan kadang membelai-belai kulit mahkota kepalanya, membuat Donny berkali-kali menggelinjang dan memperseru isapan atas kontol Indra dan mempertajam gerak maju mundur telunjuk kirinya yang mengentot silit Indra. 
"Ahhhh…. Enak Dok, sungguh enakkkkk …." Donny hanya bisa berkecepak-kecepuk, karena mulutnya penuh dengan kontol Indra yang berdenyut-denyut siap menyiram langit-langit mulut Donny. Tiba-tiba, suara Rudy yang lantang menggema di kesunyian. "Dok, sudah saya cari-cari, handuk Dokter tidak kutemukan. Saya sudah cek ke kamar periksa nomor 14 juga tidak ada." Donny sangat panik dan segera melepas kuluman mulutnya pada kontol Indra dan jari tangannya pun dicabutnya dari silit Indra. Donny cepat sekali merapikan jas kerjanya sehingga kontolnya yang ngaceng segera lenyap tak nampak. Tapi justru Indra yang paling tidak berdaya, karena kontolnya sudah hampir mencapai klimaksnya. Belum sempat dia berfikir lain, lava kenikmatan putih menyemprot dari kontolnya dan membasahi sekujur permukaan perutnya, diiringi desahan nafas lega, "Yahhhhh…… uhfffff…." Lenguhan itu menyertai semburan pejuhnya yang menyentak 5-6 kali denyutan. 
"Ada apa nihhh… ?" tanya Rudy.
"Pak Dokter…. ?" tanya Rudy bingung sambil melirik Donny karena Donny tidak segera menjawabnya.


"Eh… eh…." Itu saja ucapan yang keluar dari mulut Donny yang mukanya merah padam karena malu pada Rudy. Justru saat itu Indra membuka mata dan menyapa Donny, "Makasih Dok, kenyotan dan emutanmu enaaaak dehh!! Makasih berat nihhh" 


"Ini… ini… Dokter, apa yang terjadi ?" tanya Rudy. Donny terdiam, tetapi justru Indra yang menukas lantang, "Pak Rudy, Anda mestinya senang dong, karena punya dokter cakep di dekat Anda …… Aku malah sudah menjajal keahliannya, ternyata benar dia adalah pengemut kontol paling pandai dehhh…" 
"Huss…!" sergah Donny. Tapi Indra terus nerocos. "Ahh, Donny…. Kita jujur saja… Dokter juga merasa enak bukan, ketika kukocok tadi ?" Donny terdiam… 
"Dan Pak Rudy, coba aja pegang itunya Pak Donny… pasti masih ngaceng.." Rudy diam, Donny pun terdiam. Tapi mata Rudy melirik ke selangkangan Donny. Di sana, di balik jasnya… masih jelas tampak ada tenda (biru) menyembil tegar ….… Jelas pula, ada noda basah dari mazi (pre-cum) kontol Donny yang menempel pada jas kerjanya. 
"Pak… Pak Dokter… benar nih ?" tanya Rudy pelan pada Donny. Donny masih diam. Tapi mukanya kini menghadap ke arah Rudy dan tangannya tiba-tiba menggapai pundak Rudy, lalu segera mukanya didekatkan ke muka Rudy dan… dalam beberapa milidetik, keduanya sudah tenggelam dalam ciuman french yang begitu dalam dan mesra. Tangan mereka saling mengusap dada, lidah mereka saling berpagut, dan tangan mereka akhirnya menggerayangi selangkangan pihak lawannya, dan Rudy membuktikan bahwa kontol Donny memang masih sangat ngaceng dan kiranya sedang menanti isapannya. 
"Ehhmmm…." Sayang Indra mendeham, memecah keheningan penuh nafsu dari dokter dan asistennya yang lagi asyik masyuk merasakan suasana surgawi beberapa menit. Mendengar deheman Indra itu, keduanya baru tersadar dan berupaya memperbaiki sikap mereka dan menjadi profesional lagi. 
"Baik, Rudy, tolong bersihkan noda kotoran di perut Pak Indra dengan napkin kertas di samping jendela. Dan Pak Indra, tugas saya selesai sudah, silahkan Bapak berbaju lagi dan melakukan tes di kamar lain… Barangkali pas untuk periksa ECG sekarang.." kata Donny sambil bergerak ke wastafel, mencuci tangannya yang baru dipakai untuk mengentot silit Indra dan mengusap dada dan selangkangan Indra. Usai itu, dia meninggalkan Indra yang masih bugil dengan membuang pandangan mesra ke arah Indra dan mencolek kontol Rudy yang lagi terpana di samping Indra. 
"Pak Rudy, tolong ambilkan baju piyama saya bisa ?"
"Ohh… ya pak, dengan senang hati," sahut Rudy.
"Bisa saya bentu kenakan, Pak Indra ?"
"Ohhh… dengan senang hati." 
Sambil memakaikan piyama Indra, Rudy berupaya menanyakan pada Indra, apa yang telah terjadi selama dia disuruh mengambil handuk. Indra tidak menjawab, tetapi melingkarkan pelukannya pada tubuh Rudy yang gempal dan berotot dan mereka pun segera tenggelam dalam ciuman mesra nan panjang…. 
Sejak itu, ketiga orang itu sering saling kunjung untuk menjajal kedigdayaan mereka secara sebenarnya di ranjang. Bahkan program three in one yang hendak dihapuskan dari bumi DKI Jaya, oleh mereka justru merupakan menu paling favorit untuk senantiasa dipraktekkan.

Teman Kakakku

Pada tahun 2009, tepatnya aku kelas 3 SMP, umurku baru 15 tahun, aku bernama Jang. Langsung saja ke point nya, waktu itu aku baru pulang ekskul PMR di sekolah jam 5 sore. Aku tiduran di ruang tamu sambil melamun, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu "tok...tok...tok" bergegas aku karena sangat kaget.

aku langsung buka pintu,
"assalamu'alaikum dek!... apa benar rumah ini kediamannya Andre?" ujarnya. Lalu aku menjawab pertanyaannya sambil terbata-bata; "wa'laikum salam, iya bener ini kediaman Andre, ada perlu apa yah kaka datang ke sini?" aku langsung panggil kaka karena dia lebih tua dariku.
Selanjutnya tak disangka-sangka kakakku sudah pulang. kami langsung menatap ke luar karena suara motor kakakku terdengar sangat nyaring di telinga kami. Lalu obrolan kami pun berhenti karena dia langsung pergi menghampiri kakakku. Dan mereka pun berpelukan tidak tahu karena apa, mungkin mereka sahabat yang terpisah lama sekali, begitu pendapatku.
Lalu aku pun masuk ke kamar dan maen game di komputer dan tidak memperdulikan mereka. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, aku pun berhenti bermain game dan langsung menjatuhkan badanku ke atas ranjangku karena sangat lelah. Lalu tiba-tiba datang lagi mereka berdua. 
Mereka datang kepadaku dengan maksud untuk minta izin kepadaku bahwa teman dari kakakku akan menginap di sini beberapa hari dan tidur bersamaku karena kakakku sudah mempunyai istri, jadi dia tidur bersamaku. Dia minta tinggal di sini karena ga tau mau ke mana, karena dia baru pindah dari Jakarta untuk melanjutkan kuliah di Bandung. 


Lalu sejenak kami terdiam lalu dia memperkenalkan dirinya kepadaku, ternyata dia bernama Hendra, dia menanyakan semua tentangku dan begitu sebaliknya. Kami mengobrol sangat lama sekali.

Sesudah mengobrol, lalu dia tiduran di ranjangku. Lalu aku keluar dari kamar dan pergi ke daput untuk makan. Setelah makan, aku langsung cuci tangan dan sikat gigi. Lalu aku pun langsung ke kamar untuk tidur. Aku terkejut, melihat Hendra tidur dengan memakai kancut saja.
Sangat sexy dengan kancut yang sangat ketat dan batang kemaluannya begitu menonjol besar sekali. Dada kekar dan badannya pun terlihat sixpack.
Aku pun merasa tergoda dengan dia, lalu aku mendekatinya, dan meraba-raba dadanya, lalu ke badan dan terakhir ke batang kemaluannya dengan berhati-hati karena takut dia terbangun.
Aku menjilat perlahan dadanya. Ternyata, sedang asiknya aku menjilat dadanya, ternyata dia sudah terbangun dan membuka matanya. Aku pun jatuh ke belakang, dan segera meminta maaf kepada Kak Hendra, aku pun menundukkan kepala karena takut dia melaporkan ke kakakku dan orang tuaku. Lalu dia memegang pundakku, lalu dia segera mendekatkan mukaku dan dia mencium bibirku dengan terengah-engah nafasnya. 
Aku pun tergoda dengan bibirnya yang kecil agak merah. Kami pun langsung terus berciuman dan dia mencupangku dan kita saling meremas kontol kita masing-masing.
Aku pun pindah ke bawah untuk menjilat kontolnya yang panjang dan besar dan agak sedikit hitam. 

Aku menjilat, mengocok dan mengulum kontolnya dengan gerakan yang sama, lalu keluarlah pejuh Kak Hendra dengan warna putih polos yang sangat banyak. Hampir-hampir membanjiri mukaku.

Langsung aku pun menjilatinya dan menelannya. Lalu Kak Hendra terlentang dan aku pun disuruh menindih dia. Kontol Kak Hendra dimasukkan ke pantatku, lalu aku pun bersuara "aww.....aaaahhhhh!" karena kesakitan (karena baru pertama kali). Lalu masuklah kontol Kak Hendra ke pantatku sangat dalam. Aku pun memompa perlahan diriku, lalu Kak Hendra pun menyuruhku agar aku lebih mempercepat gerakanku, ternyata lebih enak.
Lama aku memompa kontol Kak Hendra. Lalu kami ganti posisi, aku nungging dan Kak Hendra pun memasukkan kontolnya lagi ke pantatku. Kali ini aku tidak merasa kesakitan karena sudah terbiasa. 
Kak Hendra pun menggerakkan pinggulnya ke belakang dan ke depan. Kontolnya itu sangat terasa ke pantatku dan sangat nikmat. Lalu dia mempercepat gerakannya dan itu membuatku sangat puas.
Setelah lama kami pun selesai melakukan hubungan sex. Kami pun berpelukan dan berkeringat, dan kami pun segera bangun dan membersihkan pejuh-pejuh yang berserakan di kasur. Kita pun memakai baju, biar nanti pas pagi pembantu atau keluargaku tidak curiga. SELESAI